Memahami, Menerima, dan Menyayangi diri

 

Halo Semua,Halo Brawijayans

 

             Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,Shalom, Om Swastyastu,salam sejahtera bagi kita semua,Namo Buddhaya dan Salam Kebajikan.Ketemu lagi nih sama saya Muhamad Ghifari,mahasiswa baru Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya prodi D4-Manajemen Perhotelan  asal DKI Jakarta.Kali ini saya akan membahas tentang memahami,menerima dan menyayangi diri sendiri.

            Menjadi mahasiswa berarti masuk ke jenjang yang lebih tinggi,itu artinya  kita juga masuk ke .tahap yang lebih dewasa,dimana problematika hidup bertambah.Banyak masalah dan rintangan yang kita hadapi semakin besar dan berat.Tapi itu semua bisa diatasi apabila kita memahami,menerima dan menyayangi diri sendiri.Diri sendiri boleh jadi adalah orang pertama yang kita kenali sebelum kita mengenal orang lain. Tapi, seberapa dalam kita memahaminya, acapkali menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan. Padahal, memiliki pemahaman mendalam tentang diri sendiri merupakan hal yang vital untuk apa pun yang kita kerjakan. Baik untuk kebaikan diri, untuk membangun hubungan yang lebih baik, juga untuk menciptakan hidup yang berarti dan memuaskan.Memahami adalah suatu tindakan dimana kita mengetahui dimana kelebihan dan kekurangan diri kita.Dengan memahami diri sendiri kita akan kuat dan mampu dalam menghadapi cobaan dan ujian.Jangan pernah meyamakan kemampuan diri kita dengan orang lain.Dengan kita memahami diri kita,kita akan menjadi orang yang hebat,kuat dan tangguh.Jangan pernah iri dan merasa berbeda dengan orang lain,Karena tuhan menciptakan manusia dengan perbedaan dan keunikannya masing – masing.Maksimalkan kemampuan yang kita punya untuk menghadapi masalah,cobaan dan rintangan.Melakukan refleksi untuk memahami diri memang acap tak mudah, karena jujur menguliti diri merupakan sebuah kegiatan yang tak menyenangkan. Kita biasanya lebih mudah mencari perlindungan di balik berbagai alasan. Padahal, membuka semua selubung alasan itu adalah hal kritis yang amat perlu dilakukan. 

            Kemudian berbicara tentang menerima diri.Hal ini berkaitan dengan mengetahui diri sendiri,mengapa demikian.Karena setelah kita mengetahui diri kita maka kita akan menerima apa yang tuhan telah berikan.Kita akan menjadi orang yang bersyukur,menjadi orang yang tidak mudah mengeluh.Ini merupakan modal kita nanti untuk menghadapi kehidupan nanti.Bagi saya cara saya menerima diri sendiri adalah dengan bersyukur,tidak mengeluh dengan keadaan,berusaha dengan kemampuan yang ada karena kalau kita sudah menerima diri kita kita tahu dimana letak kekuatan dan kelemahan kita.

            Kita semua tahu, rasa insecurities itu memang menyebalkan dan kita semua punya itu. Kita punya keraguan, ketakutan, batasan dan kekurangan di dalam diri kita sendiri.yang perlu kita lakukan pertama adalah menyadari; menyadari setiap manusia akan selalu punya kekurangan, menyadari setiap manusia selalu punya kelemahan, menyadari hidup bukanlah untuk saling mendahului,

Menyadari, bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaanHidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai ke tujuan, tapi siapa yang paling tahan menahan beban. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang membuat kita ragu dengan diri sendiri.

Kita harus sadar kalau tujuan dan motivasi yang kita miliki belum tentu sama dengan orang lain. Apa yang kita capai sekarang sepatutnya kita syukuri, enggak perlu kita banding-bandingkan dengan pencapaian orang lain. Cukup bandingkan diri kita sekarang dengan diri kita di masa lalu.

Jatuh bangun dalam berproses adalah hal yang biasa, yang terpenting adalah kemauan kita untuk terus berproses dan tidak berhenti hanya karena rasa insecurities. Kita tidak sedang ada di perlombaan lari. Nikmati setiap momennya dan hiduplah dengan bahagia; sebagai seorang manusia.

 

           

Kita Satu Brawijaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Alkuturasi Budaya Dalam Semangkuk Bubur Ase"

PENTINGNYA MENTAL HEALTH BAGI GENERASI Z